Pernahkah Anda mendengar istilah Wali? Di Indonesia, istilah ini
memang sangat akrab di telinga. Tapi tunggu dulu, sebelum kita masuk ke
pembahasan yang serius, kita harus akui bahwa "derajat wali" di
negeri kita ini memang cukup beragam. Ada yang derajatnya paling tinggi bagi
para orang tua, yaitu Wali Murid atau Wali Santri. Ada juga yang paling dicari
para jomblo, yaitu Wali Nikah. Bahkan ada juga "Wali" yang hobinya
bernyanyi di atas panggung.
Namun, tentu bukan itu "Wali" yang dimaksud dalam
khazanah tasawuf. Secara syariat, keberadaan Auliya Allah (kekasih-kekasih
Allah) adalah mutlak karena termaktub jelas dalam Al-Qur'an: “Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62).
Meski semua kelompok Islam sepakat bahwa Wali itu ada, namun ketika
bicara soal jenjang atau klasifikasi—seperti Wali Badal, Wali Kutub, hingga
Wali Ghaut—perdebatan mulai muncul. Mari kita bedah secara ilmiah namun santai.
Benarkah Jenjang Wali Hanya Karangan Sufi?
Banyak orang menyangka bahwa istilah Wali Badal atau Wali Kutub
hanyalah "karangan" orang-orang tasawuf yang tidak ada dasarnya.
Padahal, jika kita mau sedikit "kurang tidur" untuk membaca kitab,
para pakar hadis (Muhadditsin) pun mengakuinya.
Sebut saja Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dan muridnya, Imam
As-Suyuthi. Menurut mereka, istilah Wali Badal itu nyata dan terdapat dalam
sekian banyak hadis. Meskipun kualitas hadisnya bervariasi—ada yang sahih dan
ada yang lemah—keberadaannya sebagai sebuah konsep tidak bisa dibantah. Bahkan jauh sebelum masa Imam Syafi’i,
seorang ulama bernama Abu Sulaiman (lahir 140 H) sudah memetakan
"domisili" para wali ini:
- Wali Badal banyak berada di Syam (Suriah).
- Wali
Nujaba berada di Mesir.
- Wali
Ashab berada di Yaman.
- Wali
Akhyar berada di Irak (Baghdad).
Bayangkan, para ulama Salaf terdahulu saja sudah mengenal
predikat-predikat ini dengan sangat detail!
Menjawab Keraguan: Benarkah Hadisnya Palsu?
Kita sering mendengar pendapat bahwa hadis tentang Wali Badal itu maudhu’
(palsu). Pendapat ini sering digaungkan dengan merujuk pada Syekh Ibnu Taimiyah
atau Syekh Al-Albani. Namun, benarkah demikian?
Ternyata, jika kita menelaah lebih dalam, Imam Al-Qattani dalam kitab Nadzmul
Mutanatir menyatakan bahwa hadis tentang Wali Badal mencapai derajat Mutawatir
Maknawi. Artinya, meski redaksinya beda-beda, maknanya diriwayatkan oleh banyak
sahabat Nabi—mulai dari Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, hingga Abu
Hurairah.
Bahkan Syekh Asy-Syaukani, yang sering jadi rujukan kelompok
Salafi, dalam kitab Al-Fawaid Al-Majmu’ah menilai sanad hadis Wali Badal dari
jalur Sayyidina Ali sebagai Hasan. Begitu pula dengan Imam Al-Hakim dan Imam
Adz-Dzahabi yang mensahihkan riwayat tentang keberadaan Wali Badal di negeri
Syam. Menariknya, Syekh Al-Albani pun sebenarnya ikut mengakui kesahihan
riwayat ini, meski poin ini jarang ditampilkan ke permukaan oleh sebagian
pengikutnya.
Bukti dari "Singa" Hadis: Imam Bukhari & Ahmad bin
Hanbal
Kalau Anda masih ragu, mari kita lihat apa kata dua raksasa ahli
hadis kita:
·
Imam
Bukhari: Dalam kitab sejarahnya, beliau mencatat seorang perawi bernama Farwah
bin Mujalid dan menulis bahwa para ulama terdahulu tidak ragu bahwa Farwah
adalah bagian dari Wali Badal.
·
Imam
Ahmad bin Hanbal: Sang penjaga hadis dunia ini pernah berujar tentang seorang
perawi bernama Abu Ishaq bin Ibrahim, "Jika di Irak ini ada Wali Badal,
maka Abu Ishaq-lah orangnya."
Jika Imam Bukhari dan Imam Ahmad saja menggunakan istilah ini,
lantas atas dasar apa kita menolaknya hari ini?
Penutup: Antara Tahu dan Mau Tahu
Terkadang, ketidakpercayaan kita pada suatu hal bukan karena hal
tersebut salah, melainkan karena kita kurang membaca. Mempelajari tingkatan
wali bukan sekadar urusan mistis, tapi soal menghargai objektivitas keilmuan
para ulama terdahulu.
Bahkan tokoh sekaliber Ibnu Katsir (penulis Tafsir Ibnu Katsir)
yang dikenal sangat ketat, dalam kitab sejarahnya Al-Bidayah wan Nihayah
menceritakan sosok Syekh Abdullah Al-Armani yang berkumpul dengan para Wali
Kutub, Badal, dan Autad. Beliau bahkan mempercayai adanya mukasyafah
(ketersingkapan gaib) yang dialami para wali tersebut.
Sebagai penutup, mari kita luaskan dada dan bacaan kita. Mengenal
derajat para wali adalah cara kita mencintai orang-orang saleh, yang semoga
dengan mencintai mereka, kita kecipratan barakah dan dikuatkan imannya oleh
Allah SWT. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar